- Berdasarkan data yang nyata. Semakin banyak yang merasakan masalah yang sama, semakin kuat insight yang Anda dapatkan. Jadi, bukan hanya berdasarkan asumsi semata.
- Menjawab pertanyaan utama riset. Apabila masalah yang diutarakan sesuai dengan apa yang menjadi tujuan utama riset, maka sebaiknya kita fokus pada hal tersebut.
- Mudah dipahami. Pastikan stakeholder yang membaca mengetahui konteks yang dimaksud pada insight tersebut walaupun ia tidak mengetahui detail riset dari awal.
- Meningkatkan empati kepada pengguna. Memahami perasaan pengguna produk akan membuat Anda memahami apakah insight ini berguna atau tidak.
- Menginspirasi untuk melakukan suatu perubahan. Sebagai contoh, komentar yang mengatakan, “UI-nya sudah keren sekali” hanyalah sebuah opini yang tidak menyarankan suatu aksi perubahan. Berbeda dengan komentar “Suatu menu tidak terlalu terlihat” yang membuat kita berpikir untuk memperbaikinya.
Maka, beberapa insight yang bisa Anda temukan adalah:
Jika ada komentar yang memiliki ide atau pendapat yang sama, Anda dapat menggabungkannya dalam sebuah finding (temuan). Baru setelah itu, Anda dapat menuliskan insight yang menggambarkan perspektif yang baru saja ditemukan.
Lalu, jika terdapat banyak insight yang didapatkan ketika Usability Study, poin manakah yang perlu dikerjakan terlebih dahulu? Anda dapat menjawabnya setelah menentukan prioritas dari masing-masing insight. Anda dapat membagi prioritas berdasarkan hal berikut:
- P0 : Suatu hal yang harus segera diperbaiki karena membuat pengguna gagal mencapai tujuannya. Misalnya, tombol yang tidak bisa ditekan atau dapat ditekan namun mengarah ke halaman yang tidak tepat.
- P1 : Suatu hal yang mengganggu namun tidak sampai membuat pengguna gagal mencapai tujuannya. Misalnya, menambahkan rekomendasi pada halaman Home. walaupun fitur ini tidak ada, pengguna masih bisa memesan kopi dengan lancar.
- P2, P3, dst. : Suatu saran atau masalah lainnya dengan tingkat urgensi yang lebih rendah.